Home / Artikel / Healthy / Film Horor Menyebabkan Pembekuan Darah

Film Horor Menyebabkan Pembekuan Darah


Film Horor Menyebabkan Pembekuan Darah

Kita seringkali menggunakan berbagai istilah untuk menggambarkan rasa takut atau merinding, seperti bulu kuduk yang berdiri atau merasa dingin. Hal ini masuk akal karena respon tersebut merupakan reaksi fisiologis yang dapat terjadi dalam situasi yang menakutkan. Lalu, darimana rasa "bloodcurdling" (darah yang membeku/takut) berasal? Kita telah merasakannya seumur hidup, namun apakah ada penjelasan ilmiahnya? Menurut sebuah penelitian terbaru, ternyata ada.

Ungkapan ini sebenarnya dapat ditelusuri kembali pada abad pertengahan, dimana masyarakat pada masa itu percaya bahwa seseorang yang membatu/mematung karena ketakutan bisa membuat aliran darahnya menjadi dingin, atau bahkan membeku. Meskipun obat-obatan dan ilmu pengetahuan pada saat itu belum terlalu canggih, kepercayaan masyarakat ini sudah cukup lama membuat para peneliti penasaran, terutama karena tidak adanya penelitian yang meneliti tentang hal ini sebelumnya.

"Berbagai ekspresi atau istilah-istilah kuno ini pasti memiliki beberapa fakta dibaliknya," penulis Dr. Banne Nemeth dari Leiden University Medical Center mengatakan kepada IFLScience. "Ketika anda mengalami rasa takut, ada sesuatu yang terjadi pada tubuh anda. Respon menjadi aktif, adrenalin akan keluar, dan akhirnya memicu tindakan perlawanan. Jadi kami berpikir, sepertinya menarik untuk mengeksplorasi apakah istilah-istilah tersebut benar-benar sesuai kenyataan."

Untuk kepentingan penyelidikan, yang diterbitkan dalam BMJ Christmas special, Banne dan rekan-rekannya membentuk sebuah kelompok kecil yang terdiri dari 24 orang sukarelawan yang sehat di bawah usia 30 tahun dan kemudian membagi mereka menjadi dua kelompok. Satu kelompok ditugaskan untuk menonton film horor, "Insidious," dilanjutkan dengan menonton sebuah film dokumenter yang tidak menakutkan, yaitu "A Year in Champagne," sedangkan kelompok yang satunya lagi menyaksikan film-film tersebut secara terbalik (dokumenter tidak menakutkan terlebih dahulu, kemudian Insidious). Kedua kelompok ini memiliki waktu penelitian yang sama, dan dipantau dalam satu minggu secara bergantian. Para peserta tidak diberitahu mengenai genre film, maupun hipotesis penelitiannya.

Lima belas menit sebelum dan setelah menonton film, sampel darah para peserta diambil untuk mencari sesuatu yang disebut "faktor rasa takut," yang pada dasarnya merupakan tanda terjadinya pembekuan darah, dan para peserta juga diminta untuk melaporkan tingkat ketakutan mereka melalui kuesioner. Sayangnya, beberapa peserta harus didiskualifikasi. Sel darah dari salah satu peserta terbagi menjadi dua sampel, yang berdampak pada hasil yang tidak dapat diandalkan, dan terdapat peserta lain yang merasa sangat ketakutan ketika darahnya diambil, bahkan setelah ia diberikan sekotak cokelat berukuran besar. Peserta ini kemudian pingsan karena takut.

Dari banyaknya peserta yang tersisa, para peneliti menemukan bahwa menonton film horor memiliki kaitan erat dengan penambahan secara signifikan protein yang menyebabkan pembekuan darah yang disebut koagulasi darah faktor VIII, dan tidak ada molekul lain yang bereaksi dalam jalur pembekuan darah tersebut. Walaupun para peneliti masih tidak yakin mengenai penyebab sebenarnya dari kenaikan protein ini, mereka menyimpulkan sebuah dugaan untuk menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi.

"Jika anda menerjemahkan reaksi ini dari sudut pandang evolusi, maka hal ini masuk akal," jelas Nemeth. "Kami menemukan bahwa ternyata tubuh kita benar-benar mempersiapkan diri jika terjadi kehilangan/kekurangan darah dalam situasi yang menakutkan. Ini merupakan hal yang baik, karena rasa takut biasanya dikaitkan dengan cedera atau luka."

Kesimpulannya adalah, dalam situasi menakutkan yang menyebabkan luka, tubuh kita sudah siap dan dapat bereaksi lebih cepat, yaitu dengan membekukan darah lebih cepat sehingga mengurangi jumlah darah yang hilang. Jadi, walaupun pada abad pertengahan ilmu kedokteran belum terlalu maju, namun sepertinya orang-orang di abad pertengahan memang telah mengetahuinya.

 

Sumber: bagikertas.blogspot.co.id







Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu