Home / Artikel / Technologies / 8 CEO Startup Ini Pernah Melesat Lalu Melarat

8 CEO Startup Ini Pernah Melesat Lalu Melarat


8 CEO Startup Ini Pernah Melesat Lalu Melarat

Sembilan dari 10 startup diprediksi gagal, dan sebagian besar karena mereka menghabiskan semua uangnya. Ini berarti bahwa perusahaan tidak hanya kehilangan jutaan dolar, tetapi juga pendiri mereka. 

Ketika sebuah perusahaan bangkrut, uang dan kekayaan bersih CEO pun biasanya ikut mengalami pukulan drastis. Nyatanya, Silicon Valley bukan tempat para entepreneur terpuruk untuk waktu yang lama.

Di balik banyak kisah sukses yang sering kita dengar, ada banyak juga kegagalan di Silicon Valley. Dalam kasus lain, kegagalan dapat berarti pertarungan dengan pihak pengadilan selama bertahun-tahun. Namun dari semua itu, selalu ada pelajaran. Berikut ini adalah 8 CEO yang sempat melesat. 

1. Elizabeth Holmes

Pendiri dan mantan CEO perusahaan uji darah Theranos ini bisa mengamankan hampir USD 1 miliar pendanaan, terutama dari investor seperti Rupert Murdoch dan Sekretaris Pendidikan AS Betsy DeVos. Sayangnya, teknologi milik perusahaannya kemudian dipertanyakan dan tudingan penipuan terhadap Holmes memaksa Theranos tutup.

Theranos didirikan pada 2003 ketika Holmes berusia 19 tahun dan masih berkuliah di Stanford University. Pada 2015, Theranos memiliki valuasi USD 9 miliar.

Setahun kemudian, reporter Wall Street Journal John Carreyrou menerbitkan sebuah laporan yang merinci bagaimana Theranos beroperasi pada kapasitas terbatas dan telah merilis hasil tes yang dituding palsu dan tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk pasien. Pada akhir 2017, Theranos mulai tenggelam. Perusahaan ini tidak punya uang dan anggota dewannya pergi.

September lalu, Theranos memecat karyawannya dan Holmes menghadapi tuduhan penipuan. Perusahaan tutup hanya beberapa hari setelahnya. Holmes, yang pernah ditaksir Forbes memiliki kekayaan bersih USD 4,5 miliar, kini memiliki kekayaan bersih diperkirakan USD 0 alias tidak punya apa-apa.

2. Antoine Balaresque dan Henry Bradlow

Antoine Balaresque dan Henry Bradlow mendirikan startup drone bernama Lily Robotics pada 2013. Pada 2015, Lily Robotics meraup pendanaan lebih dari USD 15 juta dan hampir USD 35 juta untuk pra-penjualan berkat video viral yang memperlihatkan aksi drone mereka. 

Dua tahun kemudian, Lily Robotics ditutup, mengajukan kebangkrutan, dan digerebek oleh agen federal. Padahal di masa kejayaannya, Lily Robotics menarik minat para investor seperti si kembar Winklevoss (yang terkenal menggugat Mark Zuckerberg atas hak cipta Facebook) dan perusahaan-perusahaan seperti Spark Capital (dikenal karena pendanaan Twitter dan Slack).

Lalu di mana drone yang kabarnya banyak dicari orang itu? Kabarnya, drone tersebut tidak pernah ada. Salah seorang pendirinya, Balaresque menulis dalam email yang diperoleh oleh Jaksa Distrik San Francisco bahwa rekaman video viral yang disebut dari drone Lily itu rupanya menggunakan GoPro yang dipasang pada drone DJI Inspire senilai USD 2.000. 

Dan menurut dokumen kepailitan, Lily Robotics bakar duit sekitar USD 1 juta per bulan, sementara para konsumen yang sudah melakukan pemesanan menunggu dengan cemas drone yang mereka inginkan. 

Pada 2017. Lily Robotics berencana mengembalikan uang kepada pelanggan, tetapi tidak jelas apakah ada yang telah menerima pengembalian dana tersebut. 

3. Sunil Paul

Di masa jayanya, sekitar tahun 2011, Sidecar dianggap sebagai perintis ride sharing, bahkan mengalahkan Uber dan Lyft. Namun, dengan dana tak lebih dari USD 35 juta, sang pendiri sekaligus mantan CEO Sunil Paul mengatakan, perusahaannya tak dapat bersaing dengan Uber yang mengumpulkan lebih dari USD 6,6 miliar.

Sidecar akhirnya menutup operasinya pada 2015, namun untungnya, masih mampu menjual asetnya ke General Motors pada tahun berikutnya.

"Visi kami adalah untuk menemukan kembali transportasi dan kami telah mencapainya dengan ridesharing dan pengiriman. Namun, ini adalah kemenangan yang pahit," tulis Paul pada 2015. 

Ia sebagian besar menyalahkan taktik agresif dan perilaku anti-persaingan Uber atas kekalahan Sidecar. Dia bahkan pernah mengajukan gugatan terkait masalah ini tahun lalu. Berdasarkan profil LinkedIn-nya, dia kini menjadi pendiri Spring Ventures, sebuah perusahaan pemodal.

4. Sean Parker dan Shawn Fanning

Napster yang didirikan pada 1999 oleh dua remaja Sean Parker dan Shawn Fanning, menjadi layanan berbagi musik dan bertukar file gratis yang digemari pada masanya.

Tapi langkah mereka kemudian terjegal setelah beberapa tuntutan hukum menjeratnya. Napster kemudian setuju untuk membayar USD 26 juta kepada para publisher yang merasa dirugikan. 

 
Pada 2002, Wired menyebut Napster sebagai 'perusahaan yang meluncurkan program Internet paling inovatif.' 
 
Namun kemudian, Napster yang menjadi platform sangat terbuka, dihancurkan oleh banyak tuntutan hukum yang lebih luas, termasuk salah satunya yang datang dari band metal Metallica. Kasus ini disayangkan 57 juta penggunanya yang sangat menggemari Napster. 
 
Beruntung, kegagalan berskala besar ini tidak lantas membuat kedua software engineer itu lumpuh selamanya. Parker di kemudian hari menjadi President of Facebook pertama meskipun akhirnya pergi setelah terlibat sebuah skandal, dan Fanning mulai berinvestasi.

5. Hosain Rahman

Jawbone Health, wearable gadget yang berfungsi sebagai fitness tracker dan kebugaran sukses meraup sekitar USD 950 juta. Jawbone tercatat menghabiskan hampir USD 1 miliar selama satu dekade, tetapi pada akhirnya tidak dapat membuat wearable gadget yang bisa bersaing dengan saingannya, Fitbit.

Pendiri dan CEO Jawbone Hosain Rahman, mengajukan kebangkrutan Chapter 7 pada tahun 2017 dengan rencana menjual beberapa aset Jawbone. J.P. Morgan bahkan menggugat Rahman dengan tuduhan dia gagal membayar pinjaman. Untuk masalah pinjaman, kedua pihak akhirnya menyelesaikannya.

Reuters menggambarkan Jawbone sebagai 'kegagalan terbesar kedua di antara perusahaan-perusahaan yang didukung pendanaan dari venture capital.'

Meski demikian, hal tersebut tidak menghalangi kemampuan Rahman mengumpulkan jutaan dolar. Dia masih sanggup mengumpulkan lebih dari USD 65 juta untuk membangun perusahaan baru tahun ini.

6. Chet Kanojia

Melesatnya kepopuleran Aereo, startup streaming televisi dan video yang dipelopori Chet Kanojia, harus terjegal oleh putusan Mahkamah Agung AS pada 2014.

Pengadilan memutuskan Aereo melanggar hukum hak cipta pada 2014, hanya dua tahun setelah didirikan. Lima bulan kemudian, Kanojia dan Aereo berakhir di pengadilan lagi. Tapi kali ini, untuk mengajukan kebangkrutan.

Meski demikian, Silicon Valley bukanlah tempat di mana para entepreneur yang gagal menyerah begitu saja. Pada 2016, Kanojia mengumumkan rencananya menggebrak industri broadband dengan menyediakan internet murah dan cepat lewat startup bernama Starry yang berbasis di Boston.

7. Daniel Ishag

Aplikasi taksi Karhoo berakhir sendu karena mereka kehabisan uang. Hanya 18 bulan setelah diluncurkan, pendiri dan CEO Karhoo Daniel Ishag mengundurkan diri, dan beberapa hari kemudian, perusahaan mengumumkan rencananya untuk tutup.

Ishag tidak pernah menyatakan berapa banyak pendanaan yang didapatkan Karhoo, tetapi menurut Forbes, perusahaan itu dilaporkan menghabiskan USD 52 juta dalam waktu singkat dan akhirnya mengajukan kebangkrutan.

Ketika Karhoo menutup Karhoo pada 2016, ia masih berhutang hampir USD 2 miliar kepada para pekerjanya di kota-kota di seluruh dunia. Namun, Karhoo sempat punya secercah harapan ketika Nissan dan Renault menawarkan akuisisi. Namun tidak diketahui bagaimana nasib penawaran ini.

Kabar terbaru menurut Business Wire, Ishag telah meninggalkan bidang teknologi transportasi dan merambah layanan kesehatan dengan startup baru bernama Baseline Health Technologies.

8. Kevin Gibbon

Shyp, startup pengiriman on demand, sering dibandingkan dengan Uber karena potensinya yang menggebrak seluruh industri. Sayangnya, Shyp keburu tenggelam.

Padahal, Shyp mampu mengumpulkan pendanaan USD 60 juta dari perusahaan-perusahaan seperti Kleiner Perkins. Shyp gagal mencapai kesuksesan ketika mereka berusaha mengumpulkan lebih banyak uang, dan ditolak.

Mantan CEO dan salah satu pendiri Shyp Kevin Gibbon, menulis sebuah postingan blog pada Maret 2018 yang merinci rencana untuk menutup Shyp.

"Uber telah mengubah cara konsumen berpikir tentang transportasi. Kami dapat melakukan hal yang sama. Dan saya percaya itu," tulisnya.

Fortune melaporkan, kegagalan Shyp menggambarkan tren yang mengkhawatirkan, yakni seorang CEO yang mudah tertipu seperti Gibbon percaya 'tumpukan uang itu bertahan selamanya, dan bahwa menarik venture capital terkenal menjamin kesuksesan.''

Bulan lalu, Shyp mengumumkan lewat Twitter rencananya untuk bangkit kembali, namun kali ini tanpa Gibbon berada di dalam tim.

 

Sumber: detik.com



Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Kisah Pilu Fikri, Santri "Peramal" Prabowo Jadi Menteri

access_time 29 Oktober 2019 21:48:25 folder_open 127

Gambar Pedesaan atau Gajah yang Pertama Kali Dilihat?

access_time 29 Oktober 2019 21:29:45 folder_open 121

Sejarah Panjang Tupperware, Wadah Favorit Emak-Emak

access_time 29 Oktober 2019 12:24:58 folder_open 108




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Promoted Kirim Paket di JNE Sahabat Pake GoPay, Cashback Rp. 5.000

    Kirim paket JNE Sahabat pake GoPay, Cashback Rp. 5.000, Jemput Paket Gratis untuk wilayah Kab. Cirebon.

  2. Belum ada komentar

menu
menu