Home / Artikel / Inspiring / Tas Tradisional Suku Indonesia Diakui UNESCO

Tas Tradisional Suku Indonesia Diakui UNESCO


Tas Tradisional Suku Indonesia Diakui UNESCO

Dunia fashion  selalu menarik diikuti dan tak ada matinya. Lingkaran fashion selalu berputar sejalan dengan berkembangnya zaman. Tak heran jika tren fashion tahun-tahun lalu yang sudah lewat muncul kembali di tahun-tahun sekarang ini. Salah satu model fashion yang tak ada habisnya termakan waktu adalah gaya vintage.

Vintage merupakan fashion yang diadaptasi pada era 20-an sampai 60-an. Tema vintage memang bisa memberikan penampilan yang unik sekaligus berkelas. Inilah yang membuat gaya vintage tetap menjadi tren dan masih banyak digunakan di industri fashion. Sekarang ini gaya vintage kerap kali di mix & match dengan aksesoris etnik, seperti tas.

Bicara tentang tas etnik, belum lama ini tas etnik asli Indonesia berhasil menyita perhatian para fashionista dan khususnya kaum perempuan. Keindahan dan kekhasan budaya Indonesia, kini tidak hanya bisa dikenakan dalam bentuk pakaian saja, tapi juga sebagai pelengkap penampilan jadi lebih epik.

Bahkan siapa sangka salah satu tas etnik asli suku Indonesia ini telah diakui oleh UNESCO dan menjadi inspirasi para desainer terkenal. Beberapa suku di Tanah Air masih memelihara budaya membuat tas tradisional tersebut. Ada yang berupa rajutan, anyaman, serta tenunan. Berikut 4 tas etnik asli suku Indonesia yang dirangkum dari berbagai sumber.

Tas Noken. Tas tradisional ini terbuat dari serat kulit kayu. Uniknya, tidak seperti tas biasa yang disangkutkan ke bahu, tas ini dipakai dengan cara disangkutkan di kepala sementara bagian kantungnya menjuntai ke punggung. Masyarakat Papua selalu menggunakan noken sebagai wadah untuk membawa barang bawaan saat bepergian dan dipakai untuk membawa anaknya.

Bahan baku tas ini yang digunakan adalah kayu pohon Manduam dan pohon Nawa (Anggrek hutan) yang diolah dan dikeringkan. Kayu ini kemudian dipintal menjadi benang dan diwarnai dengan pewarna alami, selanjutnya benang kayu dirajut menjadi noken. Tak heran jika harganya bervariasi mulai dari Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Sejak 2012, noken resmi masuk dalam daftar UNESCO Warisan Budaya Tak Benda.

Tas Anjat. Tas anyaman dari rotan ini berbentuk bundar seperti tabung dan merupakan hasil kerajinan anyam suku Dayak di Kalimantan Timur. Bagi kaum laki-laki, Anjat digunakan sebagai wadah untuk perbekalan saat berburu ke hutan. Sedangkan kaum perempuan menggunakan Anjat untuk menyimpan baju atau makanan saat pergi berkebun.

Tas Koja. Tas ini terbuat dari kulit pohon Teureup. Kulit pohon dijemur hingga kering, kemudian dibelah kecil-kecil dan dianyam menjadi benang. Selanjutnya benang-benang itu dirajut menjadi tas koja. Biasanya suku Baduy menggunakan tas ini untuk mengangkut alat-alat pertanian atau membawa barang-barang saat bepergian.

Tas Sepu. Tas etnik dari suku Toraja ini biasanya digunakan perempuan Toraja untuk mengikuti pesta adat Rambu Tuka' (perkawinan), Rambu Solo' (kematian), dan Ma'rara Banua (syukuran rumah). Biasanya tas berbahan kain tenun ini digunakan berpasangan dengan baju adat Toraja. Kini, tas sepu sudah menjadi salah satu suvenir khas Toraja.

 

Sumber : Liputan6.com
Penulis : Afifah Cinthia Pasha
Foto : Phinemo.com



Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Kisah Pilu Fikri, Santri "Peramal" Prabowo Jadi Menteri

access_time 29 Oktober 2019 21:48:25 folder_open 77

Gambar Pedesaan atau Gajah yang Pertama Kali Dilihat?

access_time 29 Oktober 2019 21:29:45 folder_open 74

Sejarah Panjang Tupperware, Wadah Favorit Emak-Emak

access_time 29 Oktober 2019 12:24:58 folder_open 69




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Promoted Kopi Kebersamaan, Kopi Enak Ga Harus Mahal

    Kopi Enak Ga Harus Mahal, dibuat dari biji kopi pilihan asli Indonesia dengan varian rasa yang bikin segar

  2. Belum ada komentar

menu
menu