Home / Artikel / Healthy / Covid-19, Vitamin C dan Kekebalan Tubuh

Covid-19, Vitamin C dan Kekebalan Tubuh


Covid-19, Vitamin C dan Kekebalan Tubuh

Akibat Covid-19 yang mewabah di berbagai negara, maka ribuan orang telah kehilangan nyawa, pertumbuhan ekonomi terancam, mata uang melemah, dan beberapa kota dinyatakan lockdown. Covid-19 gejalanya mirip flu batuk, pilek, dan disertai panas tinggi, kemudian sesak napas dan bisa berakhir fatal (kematian). Penderita positif Covid-19 dan jumlah orang meninggal hingga kini terus merangkak naik di negara kita.

Agar tubuh kita mampu menangkal penyerbu-penyerbu asing (virus, kuman, dan bakteri), maka limfosit (sel darah putih) harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Mengonsumsi vitamin C dosis tinggi diketahui dapat meningkatkan produksi limfosit. Vitamin C bekerja seperti antibiotika di dalam tubuh untuk menghancurkan virus penyebab penyakit.

Vitamin C juga akan meningkatkan kadar glutation di dalam tubuh. Glutation adalah antioksidan di dalam tubuh yang dapat menjaga sistem kekebalan tubuh. Konsumsi vitamin C 500 mg sehari dapat meningkatkan kadar glutation tubuh sampai 50%.

Vitamin C juga punya kemampuan untuk memperbaiki sistem kerja paru-paru. Mereka yang rajin mengonsumsi vitamin C peluangnya untuk menderita bronchitis kronis lebih rendah.

Kesehatan manusia tidak selamanya berada dalam kondisi optimal karena fluktuasi lingkungan. Saat ini, ketika negara dalam kondisi darurat akibat Covid-19 upaya menjaga kekebalan tubuh menjadi sangat penting.

Untuk menangkal infeksi virus atau bakteri seseorang harus mempunyai sistem kekebalan tubuh yang baik. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh asupan vitamin C yang memadai. Demikian pula dalam kondisi stres yang umumnya akan menurunkan imunitas. Dalam suatu penelitian, sejumlah 27% kelompok orang yang mengalami stres ringan segera terjangkit flu ketika diekspos dengan virus flu. Sementara itu, jumlah yang terserang flu menjadi 47% apabila mereka sedang stres berat.

Sampai saat ini angka kecukupan gizi yang dianjurkan tentang vitamin C adalah 40-90 mg sehari (tergantung usia). Anjuran vitamin C yang relatif rendah ini menunjukkan pandangan sempit tentang vitamin C yang seolah-olah hanya sebagai penangkal skorbut (sariawan).

Di saat Covid-19 merebak menjadi pandemi di banyak negara, termasuk Indonesia, anjuran meningkatkan makan sayur dan buah sebagai sumber vitamin C untuk kekebalan tubuh adalah sangat penting. WHO menganjurkan konsumsi sayur dan buah setiap hari 400 g terdiri dari 250 g buah dan 150 g sayuran. Sayang sekali, konsumsi rata-rata penduduk Indonesia hanya mencapai sekitar 100 g.

Linus Pauling, ilmuwan vitamin C, menganjurkan asupan vitamin C sekitar 1000-3000 mg. Robert Catchart menyarankan kita menggunakan teknik toleransi perut yakni dosis vitamin C yang mampu mengatasi masalah kesehatan tanpa menimbulkan diare. Jadi, dalam hal ini diare menjadi cut off point atau pembatas dosis tertinggi yang bisa diterima oleh individu. Artinya, kalau kita menelan vitamin C 1000 mg menimbulkan diare, maka kita perlu menurunkan menjadi 750 atau 500 mg.

 

Sumber : Detik.com/Ali Khomsan ( Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB )



Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Pengusaha Cantik Asal Semarang yang Pekerjakan Puluhan Difabel

access_time 21 Maret 2020 11:21:55 folder_open 124

Nasihat Habib Jindan Agar Tak Kawatir Soal Rejeki

access_time 14 Maret 2020 11:40:13 folder_open 82

Jadi Tukang Jagal Sejak Usia 13, Kini Kekayaannya Ratusan Milyar

access_time 10 Maret 2020 15:51:59 folder_open 82




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Promoted Kirim Paket di JNE Sahabat Pake GoPay, Cashback Rp. 5.000

    Kirim paket JNE Sahabat pake GoPay, Cashback Rp. 5.000, Jemput Paket Gratis untuk wilayah Kab. Cirebon.

  2. Belum ada komentar

menu
menu