Home / News / Internasional / Awalnya Dunia Takut ke China Akibat Corona, Kini Keadaan Berbalik

Awalnya Dunia Takut ke China Akibat Corona, Kini Keadaan Berbalik


Awalnya Dunia Takut ke China Akibat Corona, Kini Keadaan Berbalik

Di masa-masa awal merebaknya pandemi corona dunia takut dan curiga terhadap China tapi kini keadaan berbalik 180 derajat: Negara Barat kini membuat Asia dan belahan dunia lain takut.

Italia, Spanyol, Amerika Serikat, kini masih mengalami peningkatan jumlah kasus positif corona tapi di Asia, khususnya China, pandemi corona sudah mulai menurun. Tapi negara-negara Asia, termasuk China, kini berjuang melawan gelombang kedua kasus corona baru yang datang dari luar negeri.

Pejabat kesehatan China Kamis lalu mengatakan ada 34 kasus baru yang berasal dari orang yang tiba dari luar negeri.

Di seantero Asia, pendatang dari Eropa, dan AS, kini dipaksa masuk karantina. Pusat olahraga, klinik, restoran di Hong Kong kini memperingatkan agar para pendatang dari luar negeri itu untuk tidak mendekat. Bahkan warga China yang menyekolahkan anaknya ke New York atau London kini mengirimi mereka masker dan cairan pembersih tangan sekaligus meminta mereka segera pulang dengan biaya penerbangan yang bisa mencapai USD 25.000 atau setara Rp 400 juta.

"Kami pulang karena menurut kami sekarang lebih aman di China daripada bertahan di New York," kata Farrah Lyum, 24 tahun, siswa yang baru lulus dari kampusnya dan pulang ke China dengan teman satu kamarnya di asrama, seperti dilansir dari laman the Straits Times, Jumat (20/3).

Keadaan dunia kini memang berbalik. Beberapa pekan lalu China menjadi pusat penyebaran virus corona dan orang meninggal hingga ratusan setiap hari.

Tapi Kamis lalu (19 Maret) dilaporkan tidak ada lagi kasus baru corona dari dalam negeri di China. Dengan menjalankan karantina wilayah, menutup pabrik-pabrik dan menjalankan tes kepada ribuan warga, tampaknya China kini berhasil mengendalikan wabah ini.

Tapi kini pandemi yang berawal dari China itu mulai kembali berdatangan dari luar. Dari mulai China, Singapura, Taiwan, Korea Selatan, mereka sudah berhasil mengendalikan wabah, tapi kini muncul kekhawatiran. Negara-negara itu kini memandang negara Barat dan bertanya: Kami bisa mengatasinya, mengapa kalian tidak?

Bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, jawabannya adalah kebalikannya. Meski menuai berbagai kritikan karena menganggap enteng wabah ini pada awalnya, Trump berulang kali menyebut corona sebagai "virus China" dan bagi sebagian kalangan hal itu adalah bagian dari upaya Trump untuk lari dari masalah.

Beijing kemudian membalas dengan menyebut virus itu berasal dari tentara AS.
Kini di China atau warga China yang di luar negeri ada semacam pengakuan atas keberhasilan kerja keras dan pengorbanan pemerintah dalam menangani wabah corona.

"Orang-orang di negara Barat bilang tindakan China terlalu otoriter, tidak menghormati demokrasi dan kebebasan orang," kata Yin Choi Lam, pemilik restoran berdarah China-Vietnam, di Melbourne, Australia. "Sekarang bandingkan dengan terjadi di Italia, misalnya, angka kematian sangat tinggi, atau di Amerika yang sekarang orang tidak tahu berapa banyak orang yang sudah terinfeksi. Apakah Anda memilih kebebasan atau nyawa?"

Sumber : Merdeka.com







Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Promoted Wahana, Jasa Ekspedisi Termurah Segalaksi

    Wahana Express melayani kiriman paket dan dokumen dengan tarif murah. Temukan agen terdekat kami di kota Anda

  2. Belum ada komentar

menu
menu