Home / Wondeful Indonesia / Pariwisata / Sunset di Benteng Amsterdam

Sunset di Benteng Amsterdam


Sunset di Benteng Amsterdam

Perjalanan bermobil selama 40 menit dari kota Ambon berakhir di sebuah pelataran parkir luas yang dikelilingi pohon-pohon besar nan rindang. Dari tempat parkir kami berjalan menuju pintu gerbang dan disambut semilir angin pantai. Gerbang ini adalah jalan masuk ke sebuah bangunan berbentuk benteng. Bangunan yang terletak di pinggir pantai utara Pulau Ambon ini dikenal dengan nama Benteng  Amsterdam.

Benteng Amsterdam terletak di Desa Negeri Hila, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Menghadap ke Pulau Seram, benteng yang menjadi situs budaya ini berjarak kurang lebih 42 km dari ibukota propinsi Maluku.

Benteng kokoh yang dibangun oleh Portugis pada 1512 ini berbentuk kubus dikelilingi tembok tebal beratap merah mencolok. Pada awalnya digunakan sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah karena lokasi ini dulunya adalah jalur perdagangan. Sejak Belanda datang dan mengambil alih, fungsi bangunan dirubah menjadi benteng pertahanan karena adanya perlawanan dari masyarakat setempat yang dipimpin oleh kerajaan Hitu.

Bangunan berarsitektur Eropa ini terdiri dari tiga lantai dan satu basement. Basement digunakan untuk menyimpan senjata dan penjara. Lantai satu adalah tempat tidur para serdadu. Lantai dua digunakan sebagai tempat rapat para perwira. Sedangkan lantai tiga difungsikan sebagai pos pengintaian.

Dari lantai teratas  kita dapat memandang jauh ke laut lepas, menyaksikan sunset sambil merasakan nuansa Portugis, Belanda dan Ambon sekaligus. Banyak lokasi untuk berfoto, baik di dalam maupun di luar bangunan. Tempat ini sangat mempesona dan layak dijadikan lokasi foto pra wedding.

Benteng Amsterdam juga menjadi saksi biksu kehidupan seorang moralis berkebangsaan Jerman Georg Everhard Rumphius yang pernah tinggal di sana dari 1627–1702. Ia mempelajari flora dan fauna di pulau Ambon. Ilmuwan ini juga mengisahkan bencana gempa dan tsunami yang menerjang pulau yang terkenal dengan rempah-rempah itu pada 1674.

Jika ingin berkunjung ke sana, kita tidak dikenakan tiket HTM alias gratis. Di sekitar lokasi sudah tersedia warung, restoran serta penginapan. Disarankan untuk membawa topi, kaca mata hitam dan payung untuk berlindung dari cuaca panas.

 

*Hendro Cahyono



Pariwisatapariwisata lainnya

Pulau Semak Daun, Nuansa Menyepi di Utara Jakata Pulau

access_time02 Desember 2016 10:04:43 folder_open 1.320

Pesona Mistis Wisata Goa Pindul

access_time27 Januari 2017 14:31:15 folder_open 967

Pancaran Kesegaran Aek Sijorni

access_time22 Maret 2019 14:06:16 folder_open 23

Kulinerkuliner lainnya

Ketoprak, Si Legenda Dengan Sejarah Samar

Ketoprak, Si Legenda Dengan Sejarah Samar

access_time 05 Maret 2019 13:05:20 folder_open 75
Mangut Semarang, Membara di Lidah

Mangut Semarang, Membara di Lidah

access_time 14 Maret 2019 15:59:12 folder_open 34
Lumpia Semarang Jajanan Khas dari Semarang, Jawa tengah

Lumpia Semarang Jajanan Khas dari Semarang, Jawa tengah

access_time 07 November 2016 19:38:07 folder_open 2.415




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu